APA ITU KHILAFAH?


APA ITU KHILAFAH?! 
 
Oleh: Salman Al-Ghozi 
 
بِسمِ اللّٰهِ الرَحمٰنِ الرَحِيمِ 

 Kata Khilafah saat ini adalah sebuah kata yang semakin banyak di bicarakan oleh orang-orang, terlepas apakah pembicaraan yang mereka lakukan tentang hal itu dari sudut pandang pro maupun dari sudut pandang yang kontra, namun tema tentang Khilafah saat ini semakin ramai di bicarakan oleh orang-orang, baik dalam pengajian-pengajian, dalam diskusi-diskusi keagamaan, atau diskusi-diskusi di televisi, atau juga dalam harakah-harakah keislaman, bahkan musuh-musuh Islam yang tidak ingin umat Islam bangkit kembali sebagaimana yang pernah terjadi di masa lalu pun ikut sibuk memikirkannya agar ia tidak tumbuh dan membesar kembali. 


Pertanyaannya, lalu apakah Khilafah itu?!. 
Khilafah خِلَافَةً berasal dari kata Khalifah خَلِيفَةً yang artinya adalah pengganti, hal ini sebagaimana firman Allah di dalam surat Shad ayat 26 di bawah ini. 

 Allah berfirman, 

 يَا دَاوُدُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الأرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ 

Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu sebagai pengganti (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. QS: Shad 26. 

Dalam ayat di atas Allah memberi tahu kepada Nabi Dawud bahwa dia Allah jadikan sebagai pengganti (penguasa) di bumi, lalu Allah memerintahkannya agar memberi keputusan di antara manusia dengan adil dan jangan mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan dari jalan Allah, karena sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. 

Dan kata خَلِيفَةً dalam ayat di atas artinya adalah pengganti. 

Jadi berdasarkan firman Allah dalam surat Shad ayat 26 di atas kata Khalifah artinya adalah pengganti. 

Kemudian di dalam surat Al-A'raf ayat 69 Allah juga berfirman mengisahkan tentang perkataan Nabi Hud kepada kaum 'Aad tentang ajakannya untuk beriman kepada Allah dan mengingatkan mereka bahwa mereka adalah para Khalifah/pengganti kaum Nabi Nuh 'alaihissallam di bumi setelah lenyapnya mereka. 

 Allah berfirman,

 أَوَعَجِبْتُمْ أَنْ جَاءَكُمْ ذِكْرٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَلَى رَجُلٍ مِنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْ وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً فَاذْكُرُوا آلاءَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ 

Apakah kalian (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepada kalian peringatan dari Tuhan kalian yang dibawa oleh seorang laki-laki di antara kalian untuk memberi peringatan kepada kalian?, Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kalian sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakan kalian (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kalian mendapat keberuntungan. QS: Al-A'raf 69. 

Dalam surat Al-A'raf ayat 69 di atas Allah mengisahkan tentang perkataan Nabi Hud yang menyeru kaumnya yaitu kaum 'Aad agar beriman kepada Allah dan mengingatkan mereka bahwa mereka adalah para pengganti kaum Nuh setelah mereka lenyap, dan mereka Allah anugrahi fisik dan kekuatan yang lebih baik dari pada kaum Nabi Nuh, oleh karena itu mereka di ingatkan olehnya agar mengingat/mensyukuri nikmat-nikmat Allah agar mereka menjadi orang-orang beruntung. 

Dan kata خُلَفَاءَ dalam ayat di atas artinya adalah para pengganti. 

Maka berdasarkan firman Allah dalam surat Shad ayat 26 dan surat Al-A'raf ayat 69 di atas kata Khalifah artinya adalah pengganti. 

Yaitu pengganti atau wakil Allah di bumi untuk mengurus/memakmurkannya, QS: Al-Baqarah ayat 30, QS: An-Naml ayat 62. 

Atau pengganti generasi sebelumnya, QS: Al-A'raf ayat 69 dan 74, QS: Yunus ayat 14. 

Atau pengganti pemimpin sebelumnya,

 عَنْ أَبِي حَازِمٍ قَالَ قَاعَدْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ خَمْسَ سِنِينَ فَسَمِعْتُهُ يُحَدِّثُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي وَسَتَكُونُ خُلَفَاءُ فَتَكْثُرُ 

Dari Abu Hazim dia berkata, “Saya pernah duduk (menjadi murid) Abu Hurairah selama lima tahun, saya pernah mendengar dia menceritakan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Dahulu Bani Israil selalu dipimpin oleh para Nabi, setiap seorang Nabi meninggal lalu digantikan oleh Nabi yang lain. Dan sungguh tidak akan ada Nabi lagi setelahku, namun yang ada adalah para khalifah (kepala pemerintahan) sehingga mereka berjumlah banyak...” HR: Muslim. 

Dalam hadits di atas kata خَلَفَهُ artinya adalah digantikan atau menggantikannya, yaitu di gantikan oleh Nabi setelahnya, atau menggantikan Nabi yang sebelumnya. 

Dan kata خُلَفَاءُ dalam hadits di atas artinya adalah para pengganti atau para Khalifah, yaitu para Khalifah yang akan menggantikan kepemimpinan Nabi shallallahu 'alaihi wassallam atas umat. 

Dalam terjemah kitab Tarikh Khulafa' karya imam As-Suyuthi halaman 149-150 di terangkan tentang sebab mengapa Khalifah 'Umar ibnu Khaththab bisa di panggil dengan sebutan Amirul Mukminin adalah karena sebelumnya Khalifah Abu Bakar ketika menulis surat ia memulainya dengan kalimat "Dari Khalifah Rasulullah", kemudian ketika 'Umar di bai'at menjadi Khalifah menggantikan kedudukan Khalifah Abu Bakar ketika ia menulis surat maka ia mengawalinya dengan kalimat "Dari Khalifah Khalifahnya Rasulullah", maksudnya dari 'Umar sang pengganti penggantinya Rasulullah (Abu Bakar). 

Namun karena kalimat tersebut di rasa terlalu panjang, akhirnya di usulkan kepadanya untuk memakai sebutan Amirul Mukminin, alasannya karena ia adalah amirnya (pengaturnya) orang-orang mukmin. 

Kemudian setelah itu di pakailah sebutan Amirul Mukminin untuk gelarnya, bukan lagi Khalifah Khalifahnya Rasulullah, namun begitu ia tetaplah seorang Khalifah, hanya saja ia memakai gelar Amirul Mukminin agar penyebutannya lebih simpel. 

Abu Bakar ibnu Sulaiman berkata, Asy-Syifa (seorang wanita muhajirat) berkata bahwa setiap kali menulis surat Abu Bakar memulainya dengan kalimat, "Dari Khalifah Rasulullah", sedangkan 'Umar mengawali dengan, "Dari Khalifah Khalifahnya Rasulullah", hingga suatu hari 'Umar menulis surat kepada pejabatnya di Irak, meminta di kirimi dua orang yang bisa memberinya informasi tentang Irak dan masyarakatnya, pejabat itu mengutus Lubaid ibnu Rabi'ah dan Adi ibnu Hatim, keduanya segera berangkat ke Madinah lalu masuk ke masjid Nabawi, mereka berjumpa dengan Amr ibnu Al-Ash dan berkata, "Bantulah kami untuk minta izin kepada 'Umar sampai kami bisa bertemu dengan Amirul Mukminin." 

Amr ibnu Al-Ash berkata, "Demi Allah, gelar yang kalian sebutkan sangat cocok untuk 'Umar." 

Amr kemudian masuk menemui 'Umar dan menyapa, "Assalamu'alaika ya Amirul Mukminin." 'Umar bertanya heran, "apa yang terlintas dalam benakmu soal gelar ini, beri tahu aku mengapa engkau terdorong untuk memanggilku dengan gelar tadi?." 

Amr ibnu Al-Ash memberitahukan kejadiannya lalu berkata, "Engkau adalah Amir (pemimpin), sedangkan kami adalah kaum Mukminin." 

Sejak saat itu surat-surat yang di kirim 'Umar ibnu Al-Khaththab menggunakan gelar tersebut. Di ambil dari terjemah kitab Tarikh Khulafa' halaman 149. 

Jadi berdasarkan dalil-dalil yang sudah di sampaikan di atas, kata Khilafah asal katanya adalah berasal dari kata Khalifah yang artinya adalah pengganti, yaitu pengganti atau wakil Allah di muka bumi untuk mengurus/memakmurkan bumi, atau pengganti generasi yang ada sebelumnya, atau pengganti kepemimpinan yang ada sebelumnya, dan inilah makna kata Khalifah secara bahasa. Thayyib. 

Kemudian adapun makna kata Khilafah خِلَافَةً secara terminologi, maka ia artinya adalah sistem kepemimpinan Islam, hal ini sebagaimana hadits Nabi shallallahu 'alaihi wassallam yang di riwayatkan oleh imam Ahmad di bawah ini. 

 عَنِ النُّعمَانِ بنِ بَشِيرٍ قَالَ، كُنَّا قَعِدُوا فِي المَسجِدِ مَعَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَكَانَ بَشِيرٍ رَجُلًا يَكفِ حَدِيثِهِ فَجَاءَ أَبُوثَعلَبَةَ الخشني فَقَالَ يَا بَشِيرٍ بنِ سَعدٍ أَتُحَفِظُ حَدِيثٍ رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي الأَمرِاء؟، فَقَال حُذَيفَةَ، أَنَا أَحفَظُ خُطبَتَهُ فَجَلَسَ أَبُو ثَعلَبَةَ فَقَالَ حُذَيفَةَ، قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ، "تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُم مَا شَاءَ اللهُ أَن تَكُونَ، ثُمَّ يَرفَعُهَا اللهُ إِذَا شَاءَ أَن يَرفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنهَاجِ النُّبُوَّةَ، فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَن تَكُونَ، ثُمَّ يَرفَعَهَا إِذَا شَاءَ أَن يَرفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ مُلكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَن تَكُونَ، ثُمَّ يَرفَعَهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَن يَرفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ مُلكًا جَبَّرِيًا فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَن تَكُونَ، ثُمَّ يَرفَعَهَا إِذَا شَاءَ أَن يَرفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنهَاجِ النُّبُوَّةَ، ثُمَّ سَكَتَ 

Dari Nu'man ibnu Basyir dia berkata, kami duduk di masjid bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wassallam, dan Basyir adalah seorang laki-laki yang berhenti bicara, kemudian datang abu Tsa'labah ibnu Al-Khusyaniy kemudian dia berkata, "Wahai Basyir ibnu Sa'din, apakah engkau hafal suatu hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wassallam tentang para pangeran?", kemudian Hudzaifah berkata, "Aku hafal khutbahnya", kemudian Abu Tsa'labah duduk, lalu Hudzaifah berkata, bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wassallam, "Berlangsung di tengah-tengah kalian masa Kenabian (nubuwwah), ia ada sebagaimana yang Allah kehendaki untuk ada, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak untuk mengangkatnya, kemudian berlangsung di tengah-tengah kalian masa Khilafah yang menempuh jejak kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah), ia ada sebagaimana yang Allah kehendak untuk ada, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak untuk mengangkatnya, kemudian berlangsung di tengah-tengah kalian masa Kerajaan yang menggigit (Mulkan ‘Aadhdhon), ia ada sebagaimana yang Allah kehendaki untuk ada, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak untuk mengangkatnya, kemudian berlangsung di tengah-tengah kalian masa Kerajaan yang memaksa (diktator) (Mulkan Jabbariyan), ia ada sebagaimana yang Allah kehendaki untuk ada, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak untuk mengangkatnya, kemudian akan ada Khilafah yang menempuh jejak Kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah), kemudian beliau (Nabi) diam.” Musnad Imam Ahmad no.18319. 

Dalam hadits di atas Nabi shallallahu 'alaihi wassallam mengabarkan kepada kita tentang lima fase masa yang sedang (saat itu), dan yang akan di lalui oleh umat Islam, yaitu masa An-Nubuwwah, masa Khilafah 'Ala Minhajin Nubuwwah, masa Mulkan Adhdhon, masa mulkan Jabbariyatan, dan terakhir adalah masa Khilafah 'Ala Minhajin Nubuwwah kembali. 

Dalam hadits di atas Nabi shallallahu 'alaihi wassallam mengabarkan kepada kita tentang nama institusi atau nama sistem kepemimpinan Islam yang fungsinya adalah sebagai tempat untuk berjamaahnya umat Islam, yaitu sistem An-Nubuwwah dan sistem Al-Khilafah. 

Sistem An-Nubuwwah adalah sistem yang di pimpin oleh Nabi shallallahu 'alaihi wassallam, sedangkan sistem Al-Khilafah adalah sistem yang di pimpin oleh ABu Bakar, 'Umar, Utsman, 'Ali dan para Khalifah penerus mereka. 

Namun sistem An-Nubuwwah telah berakhir bersamaan dengan wafatnya Nabi shallallahu 'alaihi wassallam, sehingga setelahnya yang tinggal hanya sistem Al-Khilafah, dan inilah satu-satunya sistem yang resmi sebagai tempat berjamaahnya kaum muslimin setelah wafatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wassallam. 

Dalam menjalankan Kekhilafahan maka Abu Bakar, 'Umar, Utsman dan 'Ali adalah para Khalifah yang menjalankan Kekhilafan dengan benar mengikuti tuntunan Al-Qur'an dan sunah sehingga Nabi shallallahu 'alaihi wassallam menyebut mereka sebagai Khulafa'urrasyidin Al-Mahdiyyin, atau para Khalifah yang benar yang mendapat petunjuk. 

Sedangkan para Khalifah yang datang setelah era Abu Bakar, 'Umar, Utsman dan 'Ali, ada di antara mereka para Khalifah yang memimpin umat dengan adil, tetapi ada pula di antara mereka yang memimpin umat dengan dzalim. 

Para Khalifah yang datang setelah masa Khulafa'urrasyidin di dalam menjalankan sistem Kekhilafahan caranya sudah mengalami perubahan tidak seperti Khulafa'urrasyidin lagi, tetapi caranya sudah seperti menjalankan sistem Kerajaan, cirinya yaitu dengan cara mewariskan kekuasaan kepada anak, atau saudara, atau kerabat, sebagaimana Mu'awiyah ibnu Abi Sufyan mewariskan kekuasaannya kepada anaknya yang bernama Yazid, lalu Yazid ibnu Mu'awiyah mewariskan kekuasaannya kepada anaknya yang bernama Mu'awiyah ibnu Yazid, kemudian di teruskan oleh Marwan ibnu Al-Hakam dan seterusnya, sehingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wassallam mengatakan bahwa Kekhilafahan yang ada setelah masa Khulafa'urrasyidin sebagai Mulkun atau Kerajaan. 

Dalam hal ini Nabi shallallahu 'alaihi wassallam bersabda, 

 الْخِلاَفَةُ فِى أُمَّتِى ثَلاَثُونَ سَنَةً ثُمَّ مُلْكٌ بَعْدَ ذَلِكَ 

“Kekhilafahan di tengah umatku selama tiga puluh tahun, kemudian setelah itu adalah kerajaan.” HR. Ahmad 22568, Tirmidzi 2390 dan sanadnya dihasankan Syu'aib al-Arnauth. 

Dalam hadits di atas Nabi shallallahu 'alaihi wassallam mengatakan bahwa Kekhilafahan pada umatnya adalah tiga puluh tahun, lalu setelah itu adalah Kerajaan. 

Maksud perkataan Nabi shallallahu 'alaihi wassallam dalam hadits di atas yang berbunyi, "Setelah itu adalah Kerajaan", maksudnya adalah sistem Kekhilafahan namun di dalam menjalankannya seperti menjalankan sistem Kerajaan yang mana di antara cirinya yaitu dengan mewariskan kekuasaan kepada anak, atau saudara, atau kerabat sebagaimana yang sudah di jelaskan di atas. 

Jadi berdasarkan dalil yang sudah di sampaikan di atas bahwa arti kata Khilafah secara terminologi maka artinya adalah sistem kepemimpinan Islam. 

Yaitu sistem kepemimpinan Islam yang fungsinya adalah sebagai wadah untuk persatuan Jamaatul Muslimin, sedangkan pemimpinnya gelarnya adalah Khalifah. 

Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wassallam dalam hadits di bawah ini yang mengatakan bahwa setelah beliau tidak akan ada Nabi lagi, akan tetapi yang akan ada adalah para Khalifah sehingga berjumlah banyak. 

 عَنْ أَبِي حَازِمٍ قَالَ قَاعَدْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ خَمْسَ سِنِينَ فَسَمِعْتُهُ يُحَدِّثُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي وَسَتَكُونُ خُلَفَاءُ تَكْثُرُ قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ فُوا بِبَيْعَةِ الْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ وَأَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ 

Dari Abu Hazim dia berkata, “Saya pernah duduk (menjadi murid) Abu Hurairah selama lima tahun, saya pernah mendengar dia menceritakan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Dahulu Bani Israil selalu dipimpin oleh para Nabi, setiap seorang Nabi meninggal lalu di ganti oleh Nabi yang lain sesudahnya. Dan sungguh tidak akan ada Nabi lagi setelahku, namun yang ada adalah para khalifah (kepala pemerintahan) sehingga mereka berjumlah banyak.” Para sahabat bertanya, “Apa yang engkau perintahkan untuk kami?” beliau menjawab: “Tepatilah baiat yang pertama, maka yang pertama. Dan penuhilah hak mereka, karena Allah akan meminta pertanggung-jawaban mereka tentang kepemimpinan mereka.” HR: Muslim. 

Dalam hadits di atas Nabi shallallahu 'alaihi wassallam menjelaskan kepada kita bahwa dahulu bani Isra'il selalu di pimpin oleh para Nabi, setiap kali seorang Nabi wafat lalu di ganti oleh Nabi yang lain, lalu beliau mengatakan bahwa setelah aku tidak akan ada Nabi lagi, tetapi akan ada para Khalifah sehingga mereka berjumlah banyak. 

Jadi kesimpulannya adalah, bahwasanya Khilafah adalah wadah atau rumah sebagai tempat berhimpun atau tempat berjamaahnya kaum muslimin, sedangkan kepala rumahnya atau pemimpin umatnya di sebut Khalifah. 

Inilah satu-satunya sistem dan kepemimpinan umat Islam yang valid sebagaimana contoh Rasulullah shallallahu 'alaihi wassallam, dan umat Islam wajib hidup di dalamnya (Khilafah) dan di pimpin olehnya (Khalifah). Thayyib. 

Bahwasanya Khilafah telah ada sejak Abu Bakar ash-shiddiq di bai'at oleh kaum muslimin dari kalangan anshar dan muhajirin di tsaqifah bani Sa'idah untuk menjadi Khalifah sebagai pengganti kepemimpinan Nabi shallallahu 'alaihi wassallam dua atau tiga hari setelah Nabi shallallahu 'alaihi wassallam wafat, dan itu terjadi pada tahun 11 hijriyah atau tahun 632 masehi. 

Dan sesungguhnya Khilafah sebagai kepemimpinan Islam telah ada selama satu milenium lebih tiga abad dengan pasang surutnya dan timbul tenggelamnya sejak Abu Bakar ash-shiddiq di bai'at untuk menjadi Khalifah pada tahun 632 masehi hingga keruntuhannya pada tahun 1924 masehi silam di bawah Kekhilafahan Turki Utsmani yang saat itu berpusat di Istanbul Turki. 

Sejak saat itu umat Islam sudah tidak memiliki rumah sebagai tempat untuk bernaung lagi, sehingga kemudian mereka pun hidup semakin tercerai-berai kedalam bentuk negara-negara, organisasi-organisasi, partai-partai, jamaah-jamaah minal muslimin yang mana golongan-golongan tersebut tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wassallam mau pun dari Khulafa'urrasyidin Al-Mahdiyyin.

Padahal hidup bersatu atau berjamaah hukumnya wajib, karena wajib maka ia harus segera di kerjakan tanpa menunda-nundanya. 

Dan karena alasan itulah maka pada tahun 1418 hijriyah atau tahun 1997 masehi di munculkan kembali Khilafatul Muslimin atau Kekhilafahan Kaum Muslimin oleh Al-Ustadz Abdul Qadir Hasan Baraja' yang tujuannya adalah sebagai sarana untuk melaksanakan perintah hidup berjamaah, sebagai upaya untuk menghindari larangan hidup berpecah-belah, agar terhindar dari status mati jahiliyah akibat tidak hidup berjamaah atau tidak memiliki kepemimpinan Islam (Khalifah). 

Maka Khilafatul Muslimin mengajak kepada seluruh umat Islam di mana pun berada untuk bersatu, bersatu di dalam satu sistem satu kepemimpinan yaitu Khilafah sebagai upaya untuk mentaati perintah Allah, mentaati perintah Rasulullah, dan mentaati ulil amri minkum (Khalifah). Thayyib. 

Dan di bawah ini akan kami cantumkan urut-urutan para Khalifah beserta tahun berkuasanya dari Khalifah pertama yaitu Abu Bakar ash-shiddiq hingga Khalifah yang terakhir yaitu Abdul Majid ll, agar kita ingat kembali bahwa kita sebagai umat Islam sebenarnya memiliki sistem kepemimpinan sendiri yaitu sistem Khilafah sebagai tempat kita hidup berjamaah, dengan harapan agar umat ini ingat dengannya dan segera kembali ke dalam rumah mereka sendiri, yaitu rumah Khilafah. 

01: Abu Bakar ash-shiddiq, beliau adalah Khalifatul Muslimin pertama yang menggantikan kepemimpinan Rasulullah shallallahu 'alaihi wassallam atas umat, beliau di bai'at umat dua atau tiga hari setelah Nabi wafat, beliau menjadi Khalifah sejak tahun 11 hijriyah hingga tahun 13 hijriyah, atau tahun 632 masehi hingga tahun 634 masehi. 

02: 'Umar ibnu Khaththab, menjadi Khalifah sejak tahun 13 hijriyah hingga tahun 23 hijriyah, atau tahun 632 masehi hingga tahun 644 masehi. 

03: Utsman ibnu Affan, menjadi Khalifah sejak tahun 23 hijriyah hingga tahun 35 hijriyah, atau tahun 644 masehi hingga tahun 656 masehi. 

04: 'Ali ibnu Abi Thalib, menjadi Khalifah sejak tahun 35 hijriyah hingga tahun 40 hijriyah, atau tahun 656 masehi hingga tahun 661 masehi. Ke empat Khalifah ini di sebut Khulafa'urrasyidin Al-Mahdiyyin, rentang waktu masa kepemimpinan mereka yaitu selama tiga puluh tahun, sebagaimana hadits Nabi shallallahu 'alaihi wassallam di atas yang mana beliau berkata bahwa Kekhilafahan pada umatku adalah tiga puluh tahun, lalu setelah itu mulkun atau kerajaan, dan di genapi oleh masa Kekhilafahan Hasan ibnu 'Ali yang memerintah selama enam bulan, dan Kekhilafahan yang mereka pimpin di sebut sebagai Khilafah 'Ala Minhajin Nubuwwah (jilid l). 

05: Hasan ibnu 'Ali, menjadi Khalifah sejak tahun 40 hijriyah hingga tahun 40 hijriyah, atau tahun 661 masehi hingga 661 masehi (menjadi Khalifah selama enam bulan). Selanjutnya keterangan tahun masa kepemimpinan para Khalifah setelah ini akan di ringkas. 

06: Mu'awiyah ibnu Abi Sufyan, 41-60 H, 661-680 M. 

07: Yazib ibnu Mu'awiyah, 60-64 H, 680-683 M. 

08: Mu'awiyah ibnu Yazid, 64-64 H, 683-683 M, menurut riwayat ia menjadi Khalifah selama empat puluh hari atau dua bulan, ia meninggal karena sakit. 

09: Marwan ibnu Al-Hakam, 64-73H, 683-692 M. 

10: Abdul Malik ibnu Al-Marwan, 73-86 H, 692-705 M. 

11: Al-Walid ibnu 'Abdul Malik, 86-96 H, 705-715 M. 

12: Sulaiman ibnu 'Abdul Malik, 96-99 H, 715-117 M. 

13: 'Umar ibnu Abdul 'Aziz, 99-101 H, 717-720, ia adalah salah seorang Khalifah dari dinasti Umayyah yang memimpin dengan adil, sehingga ia sampai di juluki sebagai Khulafa'urrasyidin yang ke lima. 

14: Yazid ibnu 'Abdul Malik, 101-105 H, 720-724 M. 

15: Hisyam ibnu 'Abdul Malik, 105-125 H, 724-743 M. 

16: Al-Walid ibnu Yazid, 725-726 H, 743-744 M. 

17: Yazid ibnu Al-Walid, 126-126 H, 744-744 M, ia memerintah kurang dari enam bulan. 

18: Ibrahim ibnu Al-Walid, 126-127 H, 744-744 M, ia memerintah hanya tujuh puluh hari. 

19: Marwan ibnu Muhammad, 127-132 H, 744-750 M. 

Nama-nama Khalifah di atas mulai dari Mu'awiyah ibnu Abi Sufyan hingga Marwan ibnu Muhammad di kenal dalam sejarah Islam sebagai Khalifah-Khalifah dari dinasti bani Umayyah yang pusat Kekhilafahannya ada di kota Damaskus, Syam, mereka memerintah selama sekitar sembilan puluh tahun. 

Ada pun nama-nama Khalifah yang ada di bawah ini adalah para Khalifah dari dinasti bani Abbasiyah yang pusat pemerintahannya ada di kota Baghdad, di Irak. Dari bani Abbas (Al-Muqtadir). 

20: Abu Al-'Abbas As-Saffah, 132-137 H, 750-754 M. 

21: Abu Ja'far Al-Manshur, 137-159 H, 754-775 M, pada masa ini hidup imam Abu Hanifah, tokoh pelopor madzab Hanafi. 

22: Al-Mahdi, 159-169 H, 775-785 M. 

23: Al-Hadi, 169-170 H, 785-786 M. 

24: Harun Ar-Rasyid, 170-193 H, 786-808 M, pada masa ini hidup imam Malik ibnu Anas, tokoh pelopor madzab Maliki. 

25: Al-Amin, 193-194 H, 808-809 M, pada masa ini hidup imam Muhammad Idris Asy-Syafi'i, tokoh pelopor madzab Syafi'i, ia hidup hingga masa Khalifah Al-Ma'mun. 

26: Al-Ma'mun, 194-218 H, 809-833 M, pada masa ini hidup imam Ahmad ibnu Hanbal, tokoh pelopor madzab Hanbali, ia hidup hingga masa Khalifah Al-Mutawakil 'Alallah. 

27: Al-Mu'tashim Billah, 218-227 H, 833-842 M. 

28: Al-Watsiq Billah, 227-232 H, 842-847 M. 

29: Al-Mutawakikil 'Alallah, 232-247 M, 847-861 M. 

30: Al-Muntashir Billah, 247-248 H, 861-862 M. 

31: Al-Musta'in Billah, 248-252 H, 862-866 M. 

32: Al-Mu'taz Billah, 252-255 H, 866-869M. 

33: Al-Muhtadi Billah, 255-256 H, 869-870 M. 

34: Al-Mu'tamid 'Alallah, 256-279 H, 870-892 M. 

35: Al-Mu'tadhid Billah, 279-289 H, 892-902. 

36: Al-Muktafi Billah, 289-295 H, 902-908. 

37: Al-Muqtadir Billah, 295-320 H, 908-933 M. Dari bani Buwa'ih. 

38:Al-Qahir Billah, 320-322 H, 933-934 M. 

39: Ar-Radhi Billah, 322-329 H, 934-940 M. 

40: Al-Muttaqi Lillah, 329-333 M, 940-944 M. 

41: Al-Mustakfi Billah, 333-334 H, 944-945 M. 

42: Al-Muthi Lillah, 334-363 H, 945-974 M. 

43: Ath-Thai' Lillah, 363-381 H, 974-991 M. 

44: Al-Qadir Billah, 381-442 H, 991-1031 M. 

45: Al-Qaim Biamrillah, 422-467 H, 1031-1074 M. Dari bani Seljuk. 

46: Al-Muqtadi Biamrillah, 467-487 H, 1084-1094 M. 

47: Al-Mustadzdzir Billah, 487-512 H, 1074-1094 M. 

48: Al-Musytarsyid Billah, 512-529 H, 1118-1136 M. 

49; Ar-Rasyid Billah, 529-530 H, 1135-1136 M. 

50: Al-Muqtafi Biamrillah, 530-555 H, 1136-1160 M. 

51: Al-Mustanjid Billah, 555-566 H, 1160-1170 M. 

52: Al-Mustadhi Biamrillah, 566-575 H, 1170-1179 M.

53: An-Nashir Lidinillah, 575-622 H, 1179-1225 M. 

54: Adh-Dhahir Biamrillah, 622-623 H, 1225-1226 M. 

55: Al-Mustanshir Billah, 623-640 H, 1226-1242 M. 

56: Al-Mu'tashim Billah, 640-656 H, 1242-1258, pada masa ini bangsa Mongol yang berasal dari negeri pada rumput yang terletak di Asia timur laut menyerbu pusat Kekhilafahan Islam yang saat itu berada di kota Baghdad dan menghancurkannya, setelah itu terjadi kekosongan kepemimpinan Islam selama kira-kira tiga setengah tahun, baru kemudian pada tahun 659 hijriyah atau tahun 1261 masehi muncul kembali Khilafah dengan Khalifahnya yang bernama Al-Mustanshir Billah ll. 

Dan nama-nama Khalifah di bawah ini adalah para Khalifah dari dinasti Abbasiyah yang berpusat di Mesir setelah Baghdad di hancurkan oleh bangsa Mongol. 

57: Al-Mustanshir Billah ll, 659-661 H, 1261-1262 M. 

58: Al-Hakim Biamrillah l, 661-701 H, 1262-1301 M. 

59: Al-Mustakfi Billah l, 701-739 H, 1301-1339 M, pada masa ini hidup syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. 

60: Al-Watsiq Billah l, 739-742 H, 1339-1341 M. 

61: Al-Hakim Biamrillah ll, 742-753 H, 1341-1352 M. 

62: Al-Mu'tadhid Billah l, 753-763 H, 1352-1362 M. 

63: Al-Mutawakkil 'Alallah l, 763-785 H, 1362-1383 M. 

64: Al-Watsiq Billah ll, 785-788 H, 1383-1386 M. 

65: Al-Mu'tashim, 788-791 H, 1386-1388 M. 

66: Al-Mutawakkil 'Alallah l (2), 791-808 H, 1388-1405 M. 

67: Al-Musta'in Billah, 808-815 H, 1405-1412 M. 

68: Al-Mu'tadhid Billah ll, 815-845 H, 1412-1441 M. 

69: Al-Mustakfi Billah ll, 845-854 H, 1441-1450 M. 

70: Al-Qaim Biamrillah, 854-859 H, 1450-1454 M. 

71: Al-Mustanjid Billah, 859-884 H, 1454-1479 M. 

72: Al-Mutawakkil 'Alallah ll, 884-893 H, 1489-1487 M. 

73: Al-Mutamsik Nillah, 893-914 H, 1487-1508 M. 

74: Al-Mutawakkil 'Alallah lll, 914-923 H, 1508-1517 M. 

Di bawah ini adalah nama Khalifah-Khalifah dari dinasti Turki Utsmaniyah yang berpusat di Istanbul Turki. 

75: Salim l, 923-926 H, 1517-1520 M. 

76: Sulaiman Qanuni, 926-974 H, 1520-1566 M. 

77: Salim ll, 974-982 H, 1520-1566 M. 

78: Murad lll, 982-1003 H, 1574-1595 M. 

79: Muhammad ll, 1003-1012 H, 1595-1603 M. 

80: Ahmad l, 1012-1026 H, 1603-1617 M.

81: Musthafa l (pertama), 1026 H, 1617-1618 M. 

82: Utsman ll, 1026-1031 H, 1618-1822 M. 

83: Musthafa l (ke dua kali), 1031-1032 H, 1622-1623 M. 

84: Murad lV, 1032-1049 H, 1623-1640 M. 

85: Ibrahim l, 1049-1058 H, 1640-1648 M. 

86: Muhammad lV, 1058-1099 H, 1648-1687 M. 

87: Sulaiman ll, 1099-1102 H, 1687-1691 M. 

88: Ahmad ll, 1102-1106 H, 1691-1695 M. 

89: Musthafa ll, 1106-1115 H, 1695-1703 M. 

90: Ahmad lll, 1115-1143 H, 1703-1730 M. 

91: Mahmud l, 1143-1168 H, 1730-1754 M. 

92: Utsman lll, 1168-1171 H, 1754-1757 M. 

93: Musthafa lll, 1171-1187 H, 1757-1773 M. 

94: Abdul Hamid l, 1187-1203 H, 1773-1889 M. 

95: Salim lll, 1203-1222 H, 1789-1807 M. 

96: Musthafa lV, 1222-1223 H, 1807-1808 M. 

97: Mahmud ll, 1223-1255 H, 1808-1839 M. 

98: Abdul Majid l, 1255-1277 H, 1839-1861 M. 

99: 'Abdul 'Aziz Al-Ula, 1277-1293 H, 1861-1876 M. 

100: Murad V, 1293 H, 1876 M. 

101: abdul Hamid ll, 1293-1328 H, 1876-1909. 

102: Muhammad Rasyad V, 1328-1337 H, 1909-1918 M. 

103: Muhammad Vl, 1337-1340 H, 1918-1922 M. 

104: 'Abdul Majid ll, 1340-1342 H, 1922-1924 H, 

Inilah urut-urutan nama para Khalifah yang pernah memimpin umat Islam sejak zaman Khalifah Abu Bakar ash-shiddiq hingga zaman Khalifah Abdul Majid ll. 

Bahwasanya Khilafah pernah tampil dan memimpin umat selama kira-kira seribu tiga ratus tahun lamanya, dengan pasang-surutnya dan timbul-tenggelamnya. Namun pada tahun 1342 hijriyah atau 1924 masehi secara resmi Kekhilafahan Islam yang mana ia adalah benteng pertahanan umat Islam yang saat itu berpusat di Turki benar-benar telah tenggelam akibat konspirasi jahat orang-orang kafir barat melalui perantaraan tangan Musthafa Kemal Attaturk. 

Sejak saat itu umat Islam telah kehilangan rumahnya, sejak saat itu umat Islam telah kehilangan kepemimpinannya, sejak saat itu umat Islam telah kehilangan perisainya, sejak saat itu umat Islam telah kehilangan wibawanya, dan sejak saat itu umat Islam menjadi seperti anak ayam yang kehilangan induknya. 

Kekhilafahan Islam yang mana ia adalah wadah pemersatu umat Islam seluruh dunia mulai saat itu telah benar-benar hilang dari tengah-tengah umat Islam. Padahal hidup bersatu hukumnya adalah wajib, karena wajib maka ia mesti segera di kerjakan, sedangkan melaksanakan kewajiban hidup bersatu tidak akan dapat di lakukan mana kala tidak ada Khilafah. 

Oleh sebab itu berarti segera memunculkan Khilafah di tengah-tengah kevakuman kepemimpinan Islam hukumnya adalah wajib, agar perintah bersatu dapat di laksanakan. 

Maka dari itu pada tahun 1418 hijriyah atau tahun 1997 masehi telah di munculkan kembali Khilafatul Muslimin oleh Al-Ustadz Abdul Qadir Hasan Baraja' sebagai sarana untuk melaksanakan perintah hidup bersatu, sebagai satu upaya agar kita terhindar dari ancaman mati dalam keadaan mati jahiliyah akibat tidak Berkhilafah. 

Maka kini Khilafatul Muslimin menyeru kepada kaum muslimin di mana pun berada, mari kita bersatu, bersatu di dalam sistem Khilafatul Muslimin atau Kekhilafahan Kaum Muslim agar rahmat Allah turun, agar Allah ridha kepada kita. 

#Khilafatul_Muslimin_Wadah_pemersatu_Umat

Komentar